*ORDER PAKET PELATIHAN ONLINE TRADING BINARY* # KLIK GAMBAR DI BAWAH #
Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan

The Sleeping Buddha


Adalah patung Sang Buddha tidur (The Sleeping Buddha) yang berada di dalam kawasan bernama Maha Vihara Mojopahit. Vihara umat Buddha yang berada di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini merupakan BUDDHIST CENTRE, berada di kawasan petilasan Kerajaan Majapahit.
Memasuki komplek Maha vihara ini hati merasa teduh dan damai. Pepohonan rindang dan suasana yang rapi pada komplek  Maha vihara ini membuat para pengunjung betah.

Saya mengagumi kesahajaan dan kesucian para pemimpin umat Budha yang ada saat ini. Umat Budha dikenal sangat toleransi dengan berbagai agama di dunia. Di Indonesia sendiri ada banyak bukti betapa peradapan budaya dari agama Budha ini sangat tinggi sebagaimana ditemukan pada relief candi Borobudur.
Berdiri diatas area seluas 20.000 M2 dalam lingkungan para pengrajin kuningan dan seniman pahat batu ( pematung ), dengan bangunan bercorak khas Jawa, beratap joglo, dinding relief batu pahat, Rupang dari batu pahat di tiga Altar pemujaan, untuk mazhab Hinayana, Mahayana dan Tantrayana ( Buddha Sakyamuni, Avalokitesvara Kwan Se Im Phosat, Dewi Tara ) didalam satu Bhaktisala.

Dibelakang Bhaktisala juga ada altar Maha Brahma / She Mien Fuk , dimana setiap bulan November diadakan peringatan Ulang Tahun maha Brahma / She Mien Fuk.

Didalam area Maha Vihara juga berdiri sebuah ruang Sleeping Buddha yang monumental, merupakan yang terbesar di Indonesia dan terbesar ketiga didunia, setelah Thailand dan Nepal. Dengan ukuran panjang 22 m, lebar 6 m dan tinggi 4,5 m, Rupang ini telah mendapatkan penghargaan dari MURI ( museum rekor Indonesia ).

Dibawah rupang terdapat relief-relief yang menggambarkan kehidupan Buddha Gotama, hukum karmaphala dan hukum Tumimbal lahir. Sebuah kolam yang indah mengelilingi Rupang yang megah ini.
Mengapa posisi patung Budha ini tidur? Ternyata  dari beberapa sumber disebutkan posisi tidur ini menggambarkan posisi Budha saat parinibanna. Dimana Sang Budha digambarkan seperti sang penguasa hutan yakni singa yang sedang tidur. Budha adalah penguasa segala mahkluk di bumi.Kemudian ada pula yang menyebutkan posisi ini adalah posisi meditasi sang Budha.

Sumber lain menyebutkan posisi Budha tidur ini menggambarkan wafatnya sang Budha Gautama, dan kolam teratai  berada di sekitar patung ini menggambarkan laut dimana abu sang Budha Gautama larung.

Juga terdapat bangunan perpustakaan dengan koleksi berbagai kitab dalam bahasa Sansekerta / India / Tibet / Pali /Mandarin / Inggris dan Indonesia , ruang kelas, aula pertemuan, ruang makan dan penginapan yang dapat menampung kurang lebih 200 tamu.

Masterplan Majapahit Park



Klik pada gambar untuk versi besar agar bisa melihat dan membaca informasi secara detail pada masing-masing master plan.
      
       


Reco Lanang


Arca yang terbuat dari batu andesip dengan ukuran tinggi 5,7 meter ini merupakan gambaran dari perwujudan salah satu Dhani Budha yang disebut Aksobnya yang menguasai arah mata angin sebelah timur. Agama Budha Mahayana mengenal adanya beberapa bentuk kebudhaan yaitu Dhyani Bodhisatwa dan manusi Budhi. Dhyani Budha digambarkan dalam perwujudan Budha yang selalu bertafakur dan berada di langit. Dengan kekuatannya ia memancarkan seorang manusi Budha yang bertugas mengajarkan dharma di dunia. Tugas manusi budha berakhir setelah wafat dan kembali ke Nirwana. Demi kelangsungan ajaran dharma, Dhyani Budha memancarkan dirinya lagi ke dunia yaitu ke Dhyani Boddhisatwa. Setiap jaman mempunyai rangkaian Dhyani Budha, Boddhisatwa dan Manusi Budha. Di wilayah Trowulan sekarang sudah banyak pemahat-pemahat yang membuat arca seperti peninggalan kerajaan Majapahit,sehingga tidak sedikit orang dari luar daerah bahkan luar negeri yang memesan patung-patung seperti patung peninggalan dari kerajaan Majapahit.
Lokasi : Desa Kemloko Kecamatan Trawas 40 km dari Kota Mojokerto.

Prasasti Majapahit


Prasasti adalah bukti sumber tertulis yang sangat penting dari masa lalu yang isinya antara lain mengenai kehidupan masyarakat misalnya tentang administrasi dan birokrasi pemerintahan, kehidupan ekonomi, pelaksanaan hukum dan keadilan, sistem pembagian bekerja, perdagangan, agama, kesenian, maupun adat istiadat (Noerhadi 1977: 22).
Seperti juga isi prasasti pada umumnya, prasasti dari masa Majapahit lebih banyak berisi tentang ketentuan suatu daerah menjadi daerah perdikan atau sima. Meskipun demikian, banak hal yang menarik untuk diungkapkan di sini, antara lain, yaitu:

Prasasti Kudadu (1294 M)

Mengenai pengalaman Raden Wijaya sebelum menjadi Raja Majapahit yang telah ditolong oleh Rama Kudadu dari kejaran balatentara Yayakatwang setelah Raden Wijaya menjadi raja dan bergelar Krtajaya Jayawardhana Anantawikramottunggadewa, penduduk desa Kudadu dan Kepaa desanya (Rama) diberi hadiah tanah sima.
Prasasti Sukamerta (1296 M) dan Prasasti Balawi (1305 M)
Mengenai Raden Wijaya yang telah memperisteri keempat putri Kertanegara yaitu Sri Paduka Parameswari Dyah Sri Tribhuwaneswari, Sri Paduka Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, Sri Paduka Jayendradewi Dyah Dewi Prajnaparamita, dan Sri Paduka Rajapadmi Dyah Dewi Gayatri, serta menyebutkan anaknya dari permaisuri bernama Sri Jayanegara yang dijadikan raja muda di Daha.
Prasasti Wingun Pitu (1447 M)
Mengungkapkan bentuk pemerintahan dan sistem birokrasi Kerajaan Majapahit yang terdiri dari 14 kerajaan bawahan yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre, yaitu Bhre Daha, Kahuripan, Pajang, Werngker, Wirabumi, Matahun, Tumapel, Jagaraga, Tanjungpura, Kembang Jenar, Kabalan, Singhapura, Keling, dan Kelinggapura.
Prasasti Canggu (1358 M)
Mengenai pengaturan tempat-tempat penyeberangan di Bengawan Solo.
Prasasti Biluluk (1366 M0, Biluluk II (1393 M), Biluluk III (1395 M).
Menyebutkan tentang pengaturan sumber air asin untuk keperluan pembuatan garam dan ketentuan pajaknya.
Prasasti Karang Bogem (1387 M)
Menyebutkan tentang pembukaan daerah perikanan di Karang Bogem.
Prasasti Marahi Manuk (tt) dan Prasasti Parung (tt)
Mengenai sengketa tanah. Persengketaan ini diputuskan oleh pejabat kehakiman yang menguasai kitab-kitab hukum adata setempat.
Prasasti Katiden I (1392 M)
Menyebutkan tentang pembebasan daerah bagi penduduk desa Katiden yang meliputi 11 wilayah desa. Pembebasan pajak ini karena mereka mempunyai tugas berat, yaitu menjaga dan memelihara hutan alang-alang di daerah Gunung Lejar.
Prasasti Alasantan (939 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 6 September 939 M, Sri Maharaja Rakai Halu Dyah Sindok Sri Isanawikrama memerintahkan agar tanah di Alasantan dijadikan sima milik Rakryan Kabayan.
Prasasti Kamban (941 M)
Meyebutkan bahwa apada tanggal 19 Maret 941 M, Sri Maharaja Rake Hino Sri Isanawikrama Dyah Matanggadewa meresmikan desa Kamban menjadi daerah perdikan.
Prasasti Hara-hara (Trowulan VI) (966 M).
Menyebutkan bahwa pada tanggal 12 Agustus 966 M, mpu Mano menyerahkan tanah yang menjadi haknya secara turun temurun kepada Mpungku Susuk Pager dan Mpungku Nairanjana untuk dipergunakan membiayai sebuah rumah doa (Kuti).
Prasasti Wurare (1289 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 21 September 1289 Sri Jnamasiwabajra, raja yang berhasil mempersatukan Janggala dan Panjalu, menahbiskan arca Mahaksobhya di Wurane. Gelar raja itu ialaha Krtanagara setelah ditahbiskan sebagai Jina (dhyani Buddha).
Prasasti Maribong (Trowulan II) (1264 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 28 Agustus 1264 M Wisnuwardhana memberi tanda pemberian hak perdikan bagi desa Maribong.
Prasasti Canggu (Trowulan I)
Mengenai aturan dan ketentuan kedudukan hukum desa-desa di tepi sungai Brantas dan Solo yang menjadi tempat penyeberangan. Desa-desa itu diberi kedudukan perdikan dan bebas dari kewajiban membayar pajak, tetapi diwajibkan memberi semacam sumbangan untuk kepentingan upacara keagamaan dan diatur oleh Panji Margabhaya Ki Ajaran Rata, penguasa tempat penyeberangan di Canggu, dan Panji Angrak saji Ki Ajaran Ragi, penguasa tempat penyeberangan di Terung.
Sumber : Situs majapahit-kingdom.com 

Pendopo Agung


      
Sebuah bangunan khusus khas nuansa Mojopahit dan sering difungsikan sebagai tempat pertunjukan kesenian, studi tour, lomba, tempat pertemuan dengan suasana yang teduh dan nyaman juga sebagai tempat untuk istirahat/rekreasi. Lokasinya berada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan.

  
The Great Building
It is specific building with the nuance of Mojopahit. It is often functioned as the place of art performance, study tour, the meeting place with comfortable and cool situation, the rest place. Its location is at Temon, Trowulan.

Museum Trowulan

  
Museum Trowulan terletak di wilayah Dusun Trowulan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan. Museum ini merupakan museum istimewa, karena 80% koleksinya adalah peninggalan zaman Kerajaan Majapahit. Dalam pelajaran sejarah, Majapahit disebut sebagai kerajaan besar di Asia Tenggara yang berdiri pada 12 November 1293 dan bertahan selama 2 abad, dari abad ke-13 hingga abad ke-15. Ketika dipimpin oleh Gadjah Mada dan Hayam Wuruk, kerajaan ini mengalami masa kejayaannya sehingga berekspansi ke Malaysia dan Thailand. Museum ini dapat dicapai melalui jalan raya Trowulan atau jalan kecamatan tepat di seberang Kolam Segaran. '

Museum Purbakala Trowulan didirikan oleh RAA Kromojoyo Adinegoro (Bupati Mojokerto sebelum Indonesia merdeka) bersama Henricus Maclaine Pont (arsitek asal Belanda lulusan Technische Hogesholl Delft (THD)) pada tahun 1942 dengan tujuan untuk menampung artefak hasil penelitian arkeologi di sekitar Trowulan. Pada tanggal 24 April 1924 mendirikan Oudheeidkundige Vereeneging Majapahit (OVM). Perkumpulan ini secara aktif melakukan penelitian tentang keberadaan Istana Majapahit. Kantor OVM menempati sebuah gedung di Jalan Raya Trowulan yang juga menjadi tempat tinggal Henricus Maclaine Pont beserta keluarganya.
Melalui penelitian, penggalian, dan penemuan masyarakat setempat, OVM yang dipimpin Henricus Maclaine Pont cukup berhasil menyibak keanekaragaman peninggalan Kerajaan Majapahit. Benda-benda penemuan dikumpulkan di kantor OVM. Karena jumlah penemuannya terus bertambah, maka pada tahun 1926, Bupati RAA Kromojoyo Adinegoro menginstruksikan untuk membangun gedung baru guna menampung sejumlah peninggalan Kerajaan Majapahit. Gedung baru inilah yang merupakan cikal bakal Museum Trowulan. Namun, setelah pergantian kekuasaan dari penjajahan Belanda ke penjajahan Jepang, Henricus Maclaine Pont yang sebelumnya cukup berjasa dalam melestarikan peninggalan Kerajaan Majapahit, ditawan Jepang karena berkewarganegaraan Belanda. Akhirnya, Museum Trowulan pun ditutup. Barulah pada tahun 1943 atas perintah Prof. Kayashima, pemimpin Kantor Urusan Barang Kuno (KUBK) di Jakarta, Museum Trowulan dibuka kembali.
  
Saat ini, museum yang juga dikenal sebagai Balai Penyelamat Arca memiliki koleksi berbagai temuan di wilayah Jawa Timur. Untuk memudahkan pengunjung, benda-benda koleksi ini telah dilengkapi dengan keterangan singkat dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Ruang museum dibagi dua bagian:
  1. Ruang Pamer, digunakan untuk memamerkan artefak berukuran relatif kecil, misal: mata uang, senjata, prasasti, alat musik, dan peralatan rumah tangga.
  2. Pendopo, digunakan sebagai tempat pamer artefak berukuran relatif berat dan masih seperti arca, relief, kala, yoni, dan lain-lain.
Dalam perkembangannya, Museum Trowulan yang berada di bawah pengawasan Kantor Lembaga Peninggalan Purbakala Nasional (KLPPN) Cabang II di Mojokerto tidak hanya mengumpulkan barang-barang peninggalan Kerajaan Majapahit asal Trowulan, tapi juga peninggalan-peninggalan kerajaan dari daerah lain. Karena itu jumlah koleksi Museum Trowulan pun makin meningkat dan akhirnya tidak muat lagi. Kemudian dibangunlah gedung baru berlantai dua di sebuah lapangan, yang oleh masyarakat dikenal dengan nama Lapangan Bubat, dengan luas areal 57.255 meter persegi. Sejak 1 Juli 1987 barang-barang dari museum lama dipindah ke gedung baru yang jaraknya sekitar 2 km. Di lokasi inilah Museum Trowulan berdiri sampai sekarang.
Sebagai ibukota terakhir Kerajaan Majapahit, Kecamatan Trowulan kaya akan peninggalan-peninggalan, berupa Gapura Bajang Ratu, Candi Kedaton, Candi Tikus, Kolam Segaran, dan lain-lain. Disamping itu, masih banyak peninggalan yang berupa komponen bangunan, artefak, dan arca-arca yang jumlahnya ribuan. Sisa-sisa puing Kerajaan Majapahit itulah yang kini berada di Museum Trowulan.

Makam Siti Inggil

 

Makam Siti Inggil merupakan tempat persinggahan dan pertapaan Raja Mojopahit ke I (R. Wijaya Kertajaya Jayawardhana). Dulu ceritanya adalah sebuah punden di Dusun Kedungwulan yang diberi nama “LEMAH GENENG” yang artinya Siti Inggil. Didepan makam Siti Inggil terdapat dua makam, yaitu makam Sapu Angin dan Sapu Jagat sehingga makam ini dikeramatkan dan sering dikunjungi wisatawan lokal maupun asing setiap Jum’at Legi. Lokasinya berada di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan.
——————
Siti Inggil Grave
It was the meditation place of the first Mojopahit King (R. Wijaya Kertajaya Jayawardhana). According to the story, it was “Punden” which was called LEMAH GENENG (Siti Inggil). In front of Siti Inggil, there are two graves, the graves of Sapu Angin and Sapu Jagat. This grave is visited by many local or foreign visitor every Friday Legi. Its location is at Kedungwulan, Bejijong Village, Trowulan distric.

Makam Putri Campa


Makam Putri Campa merupakan makam bangsawan atau keluarga Kerajaan Mojopahit yang memeluk agama Islam. Jumlah nisan ada dua tempat, di makam utama dan di halaman ke II. Makam ini dikeramatkan dan sering dikunjungi pada hari Jum’at Legi. Lokasinya berada di Desa Unggahan, Kecamatan Trowulan.
——————–
Campa Prince Grave
It is grave Mojopahit Family who were moslem. There are two grave stone, one is in grave and another is in the second yard. Many visitor visit to the place, especially on the night of Jum’at Legi. Its location is at Unggahan Village, Trowulan Disctic.

Kolam Segaran

kolamsegaran1.jpg 
Kolam segaran merupakan bangunan kolam kuno terbesar yang mencerminkan kemampuan Kerajaan Mojopahit beradaptasi dengan lingkungannya. Menurut cerita kolam ini digunakan untuk rekreasi dan menjamu tamu-tamu Kerajaan Mojopahit. Orang yang pertama kali menemukan kolam ini adalah Ir. Henry Maclain Pont pada tahun 1926. Bentuk denah kolam empat persegi panjang berukuran panjang 375 m dan lebar 125 m. Dinding kolam setinggi 3,16 m, sementara lebarnya 1,6 m. Lokasinya berada di Dukuh Trowulan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan.
Segaran Pool
Segaran pool is the biggest ancient pool which descibed Mojopahit Kingdom’s ability to adapth with its environment. According to the story, this pool was used to recreated and served the guest of Mojopahit Kingdom. The location of this building is at Trowulan.
Sumber : Dinas Pariwisata Kabupaten Mojokerto
Photo by BP3 Jawa Timur

Populart Post

Partner Baclink

 
Copyright © 2013. Zona Bisnis - All Rights Reserved
Design by Krisma Yuangga Powered by Dera_DEsign